Rabu, 25 April 2018
Korban minuman keras (miras) oplosan terus berjatuhan. Satu persatu orang yang menenggak miras oplosan tersebut dinyatakan tewas. Data terakhir, tercatat ada 29 korban miras oplosan ini, bahkan 15 diantaranya tewas. Para korban rata-rata tewas setelah pesta miras pada  Jumat, (20/4). 



Yuan Abadi/Radar Surabaya 
Berdasarkan data yang dihimpun, jumlah korban yang tewas tersebut terdiri dari tiga orang tewas usai pesta miras di Pacar Keling IV. Seorang tewas di Sambikerep. Seorang tewas di Kenjeran. Tujuh orang tewas di RSUD dr. Soetomo. Lalu tiga orang tewas di RSUD dr. Soewandhi. (lengkapnya lihat grafis). 



Selain korban tewas, terdapat 14 orang yang hingga kini masih dirawat  intensif di IGD RSUD Dr Sutomo.  Kebanyakan mereka masuk ke rumah sakit setelah para korban menunjukkan gejala-gejala keracunan metanol. Mulai mual, sesak nafas, pandangan kabur, kejang-kejang, hingga hilang kesadaran. 



Kepala Seksi Pelayanan Medik RSUD dr. Soewandhi, dr. Arif Setiawan saat dikonfirmasi mengatakan korban miras oplosan yang dirawat di sana juga keracunan metanol. Diduga bahan ini yang dicampur di dalam miras oplosan. 



"Intoksikasi minuman langsung meracuni semua organ. Akhirnya semua fungsi nafas, ginjal dan liver kena semua," ungkapnya.



Pihak rumah sakit pada Rabu (25/4) kembali mendapat rujukan dua korban miras oplosan. "Tadi siang datang sekitar jam 12 siang atas nama Eko usia 18 warga Sukonggendeng, Tuban, teman dari Wawan yang sudah meninggal. Gejalanya sama sesak tapi awalnya tidak ngaku. Terus Robet, 37, sendirian minum sendiri racik sendiri, keduanya dalam kondisi kritis," ujar Pesta Manurung, Kepala Humas RSUD dr Soetomo, Surabaya, Rabu (25/4)



Wawan diketahui pesta miras bersama rekannya sesama kuli bangunan di Jalan Dukuh Kuwukan Lapangan Gang 1, Lontar, Sambikerep. Seperti diberitakan, Radar Surabaya, Rabu (25/4), Wawan tewas setelah pesta miras dicampur minuman anti mabuk, obat sakit kepala dan obat pegel linu.
Saat ini rekan Wawan, masih mendapatkan perawatan intensif. Pihak Rumah Sakit melakukan penanganan berupa eliminasi kandungan racun dalam tubuh dengan cara hemodialisa atau cuci darah. Dengan cara itu, diharapkan dampak yang ditimbulkan bisa dihilangkan. 



Ditambahkan, delapan orang yang meninggal adalah beberapa pasien yang belum sempat melakukan cuci darah. Pasien ini sampai ke rumah sakit dalam keadaan sudah buruk. Ia menambahkan,  ini adalah kali pertama RS. DR. Soetomo menangani kasus miras dalam jumlah banyak secara berurutan.
“Kebanyakan dari mereka datang terlambat dan dengan keadaan sudah parah seperti sudah sesak nafas akut, pusing dan mual-mual,” pungkasnya. (sb/yua/jek/JPR)