Hampir setahun sudah, lokalisasi terbesar di Asia Tenggara ditutup oleh Walikotanya yakni Risma. Namun hal tersebut tak menyurutkan para pramuria menghentikan aksinya. Berbagai modus pun dilakukan untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah. Salah satunya memanfaatkan media social dan beralih tempat praktinya. Seperti apa kisahnya?

MUNGKIN tak sedikit para eks penghuni lokalisasi Dolly yang tetap beroperasi untuk menyambung hidupnya. Berbagai cara dan modus pun mereka lakukan untuk mengelabui mata petugas, khususnya Pemerintah Kota Surabaya yang menyatakan perang terhadap pekerjaan yang merendahkan martabat kaum wanita. Namun, meski ruang gerak para PSK ini semakin terbatasi, tak menjadikan mereka kehilangan solusi.

MANFAATKAN MEDIA SOSIAL
Salah satunya Mawar (bukan nama sebenarnya), wanita asal Trenggalek yang dulu pernah menjadi penghuni salah satu wisma di eks lokaliasai Dolly ini mengaku ia kini menjalankan profesinya dengan memanfaatkan media social ketimbang memanfaatkan jasa mucikari. “ Ya aku dan temen-temen sekarang lebih memilih pake medsos aja untuk nyari customer,” terangnya sembari menyebut beberapa aplikasi yang mudah di download melalui android ini.
Meski media social yang dikatakan Mawar sebenarnya sudah lama ada, namun trend para wanita penyedia layanan cinta ekspress ini memang kearah sana. Setiap jam bahkan menit pun tangan mereka tak lepas dari gadget atau android untuk menjaring mangsa.

SEWA APARTEMENT
Mengenai tempat, Mawar mengaku jika ia dan beberapa temannya sengaja menyewa sebuah room apartement untuk melayani tamunya. “Selain untuk tinggal, juga untuk ekesekusi,” katanya dengan tertawa.
Ia dan teman-temannya memilih apartement bukan tanpa alasan, selain aman di apartement juga bebas membawa keluar masuk tamu. “ Prinsipnya aman dan bebas aja sih kalo di apartement,” katanya.
Bahkan, mawar dan teman-temannya pun tak segan-segan membroadcast jasa layanannya beserta tarif dan tempat kencan. “Kalo pas lagi sepi  ya aku bc para pelangganku,” terang Mawar yang mengaku menyewa sebuah room apartement di kawasan Surabaya Timur sejak delapan bulan silam.
Tarif yang dipasang Mawar pun terbilang mahal, sekali kencan ia mematok tarif 1 juta untuk layanan short time yang berdurasi tiga jam. Sedangkan untuk long time, tarif yang ia pasang 3 sampai 5 juta. “Ya maklum lah, sewa apartement kan mahal dibanding sama kontrakkan,” ungkap Mawar yang harus mengeluarkan uang 5-6 juta tiap bulan untuk sewa apartement.
Untuk bisa menikmati layanannya, Mawar pun mengharuskan para calon customernya men-transfer DP (Down Payment) terlebih dahulu sebagai tanda jadi. Besaran DP ia sesuaikan dengan jasa layanan yang akan dipilih calon customernya. “Paling tidak 25 % dari tarif lah,” imbuhnya.
Mawar juga tak asal menerima customer, ia tergolong pilih-pilih dalam menerima customer atau tamu. “Aku gak nerima yang hanya tanya-tanya doang, gak nerima yang suka nego, soalnya pasti dompetnya tipis,” kelakarnya. (fud)